Kabut Asap dan Kesehatan Paru: Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

05/10/2026


Bayi yang minum lebih sedikit dari biasanya atau orang tua yang tiba-tiba lebih mudah sesak napas saat berjalan di rute yang biasa dilalui mungkin tidak langsung dianggap mengalami masalah pernapasan. Namun, ketika kabut asap menyelimuti udara, perubahan kecil pada pola pernapasan, asupan minum, atau tingkat energi dapat menjadi tanda awal yang mudah terlewatkan bahwa paru-paru mulai terdampak.

Menurut Dr Syed Ajmal Bin Syed Ali, Konsultan Penyakit Dalam, Spesialis Respirasi & Pulmonolog Intervensi, serta Dr Noor Zehan Abdul Rahim, Konsultan Dokter Anak dan Spesialis Respirasi Anak di Sunway Medical Centre, Sunway City (SMC), kelompok yang lebih rentan perlu mendapatkan perhatian ekstra ketika kualitas udara memburuk.

“Banyak orang mengira gangguan pernapasan akibat kabut asap akan langsung terlihat jelas. Padahal, tanda-tanda awalnya bisa sangat ringan, terutama pada orang dewasa yang rentan atau lansia,” ujar Dr Syed. Dr Noor Zehan menambahkan, “Menjadi lebih mudah sesak napas dari biasanya, atau adanya perubahan pada pola minum dan pernapasan anak, dapat menjadi beberapa tanda awal bahwa kabut asap mulai memengaruhi paru-paru.”

Mengapa Kabut Asap Berdampak Lebih Besar pada Sebagian Orang

Salah satu kekhawatiran utama saat terjadi kabut asap adalah PM2.5, yaitu partikel halus yang cukup kecil untuk masuk jauh ke dalam saluran pernapasan[2]. Dr Syed menjelaskan bahwa ketika partikel-partikel ini mencapai saluran napas kecil dan kantung udara di paru-paru, partikel tersebut dapat memicu peradangan dan meningkatkan produksi lendir. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti batuk, mengi, rasa sesak atau tertekan di dada, serta sesak napas.

Beberapa kelompok memiliki risiko yang lebih tinggi, antara lain:

  • Lansia: Proses penuaan dapat mengurangi kapasitas paru-paru[3] serta kemampuan tubuh untuk membersihkan partikel yang terhirup[4].
  • Anak-anak: Saluran napas yang lebih kecil dan paru-paru yang masih dalam tahap perkembangan membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan pernapasan.
  • Pasien asma dan PPOK: Kondisi yang sebelumnya terkontrol dengan baik sekalipun dapat mengalami kekambuhan ketika terpapar udara yang tercemar.

Dr Syed dan Dr Noor Zehan juga mengingatkan bahwa pasien dengan asma atau PPOK tidak boleh beranggapan bahwa mereka sepenuhnya terlindungi hanya karena gejalanya sedang terkontrol. Dr Syed menyarankan agar pasien tetap mengonsumsi obat sesuai resep dan selalu menyiapkan inhaler pereda gejala. Sementara bagi orang tua, Dr Noor Zehan menyarankan agar mereka memahami dengan baik rencana penanganan asma (asthma action plan) anak mereka.

Perhatikan Perubahan Kecil

Menurut Dr Syed, salah satu tanda peringatan yang paling berguna adalah adanya perubahan dari kondisi yang biasanya normal bagi seseorang. Pada lansia, memperhatikan perubahan saat melakukan aktivitas sehari-hari dapat membantu mengenali apakah kabut asap mulai memengaruhi pernapasan. Perubahan tersebut dapat berupa batuk atau dahak yang semakin banyak, mengi, rasa sesak di dada, atau menjadi lebih mudah kehabisan napas saat melakukan aktivitas rutin.

Pada bayi dan anak kecil, tanda-tandanya mungkin tidak begitu jelas dan terkadang terlihat melalui perubahan perilaku atau rutinitas sehari-hari. Dr Noor Zehan menjelaskan bahwa batuk dan hidung tersumbat dapat berkembang menjadi kesulitan bernapas atau minum. Bayi yang menjadi lebih rewel dari biasanya atau minum lebih sedikit akibat hidung tersumbat mungkin sudah menunjukkan tanda awal gangguan pernapasan.

“Jangan menunggu hingga anak terlihat jelas kesulitan bernapas sebelum mencari pertolongan medis,” ujar Dr Noor Zehan. “Tanda-tanda awal seperti berkurangnya asupan minum, anak menjadi lebih rewel dari biasanya, atau kesulitan bernapas yang semakin meningkat tidak boleh diabaikan.”

Lebih dari Sekadar Perlindungan di Rumah

Meskipun informasi kualitas udara dapat membantu keluarga menentukan kapan perlu mengurangi paparan, kedua spesialis menekankan bahwa perubahan gejala juga sama pentingnya untuk dipantau.

canDr Syed menyarankan untuk segera mencari pertolongan medis apabila sesak napas, batuk, atau mengi semakin memburuk, atau jika obat yang biasanya digunakan tidak lagi memberikan kelegaan yang memadai. Dr Noor Zehan juga menyarankan orang tua untuk mencari pertolongan medis apabila batuk atau hidung tersumbat pada anak mulai mengganggu pernapasan atau aktivitas minumnya.

Tetap di Dalam Ruangan, tetapi Tetap Aktif

Kedua dokter menyarankan untuk sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan dan menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan. Sebagai gantinya, tetaplah aktif di dalam ruangan. Anak-anak dapat bermain di dalam rumah, sedangkan lansia dapat melakukan aktivitas fisik ringan di dalam ruangan.

Ketika kualitas udara di luar memburuk, keluarga sebaiknya menutup pintu dan jendela. Alat pembersih udara (air purifier) yang mampu menyaring partikel halus dapat membantu, sementara filter AC dan air purifier perlu dibersihkan atau dirawat secara berkala.

Dr Noor Zehan juga mengingatkan agar tidak menggunakan minyak esensial sebagai cara untuk mengatasi dampak kabut asap karena minyak esensial tidak dapat menghilangkan polutan dari udara dan justru dapat menambah zat lain ke dalam lingkungan di dalam ruangan.

Jika harus keluar rumah, Dr Syed merekomendasikan penggunaan masker N95 atau K95 yang terpasang dengan baik dan sesuai pada wajah.

Melindungi kesehatan keluarga selama kabut asap tidak hanya berarti tetap berada di dalam ruangan. Hal ini juga mencakup mengenali gejala sejak dini, membatasi paparan, serta mengetahui kapan perlu mencari pertolongan medis.

  Kembali

Topik yang Direkomendasikan

Artikel Kesehatan Lainnya